Selasa, 02 April 2013

Zaman Bergerak (Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926) “Takashi Shiraishi”




            Wilayah Surakarta dan Yogyakarta merupakan tempat kedudukan empat kerajaan yang berdiri sendiri di bawah kekuasaan negara Hindia Belanda. Pada zaman modal pertama, zaman politik kolonial  yang liberal dan kapitalisme swasta, secara formal diatur dalam Undang-undang Agraria 1870. Secara tradisional negara Mataram tidak mengontrol tanah, tapi mengontrol penduduk beserta hasil yang diperoleh dari tanah garapan mereka. Tanah yang diberikan kepada mereka disebut lungguh dan orang yang memegangnya disebut patuh atau lurah patuh. Kemerosotan sistem lungguh di daerah kejawen daerah yang tidak terjamah perkebunan Belanda dikarenakan terkikisnya kebekelan.
            Terjadinya peningkatan ekonomi 1912-1924 diadakan re-organisasi. Ada empat tindakan yang diambil untuk membuat perubahan tersebut: 1). Penghapusan sistem lungguh, 2). Pembentukan desa sebagai unit administrasi, 3). Pemberian hak-hak penggunaan tanah yang jelas kepada petani, dan 4) . Perbaikan aturan sewa tanah. Aturan sewa tanah yang baru, dikeluarkan pada 1918, perkebunan menyewa tanah bukan dari pemegang lungguh tetapi dari kerajaan.
            Di kota Surakarta dan sebagian Yogyakarta zaman modal hadir bersama perkembangan industry batik, dimana kegiatan membatik ini telah dilakukan oleh perempuan. Pada pertengahan 1840-an metode membatik diperkenalkan oleh seorang pedagang batik di Kauman. Kauman adalah tempat bermukimnya para pegawai keagamaan sekaligus tempat produksi batik berskala besar, karena sungai yang mengalir di dekatnya sanggup menyediakan air yang diperlukan.
            Zaman baru ini, merupakan tanda kemajuan menuju modernitas yaitu mendapatkan pendidikan gaya Barat. Mereka menyebut diri denagn kaum muda yang lebih modern ketimbang orang tua. Dengan lahirnya kelembagaan seperti surat kabar bumiputera, jurnalis bumiputera bekerja pada penerbit Indo dan Tionghoa. Persaingan orang Tionghoa yang dirasakan oleh pengusaha dan pedagang batik bumiputera, lalu Samanhoedi bergabung dengan Kong Sing. Ketika revolusi Tiongkok mencapai Hindia, mereka mulai bersikap arogan dan memperlakukan onggota Jawa secara kurang layak. Lalu, H. Samanhoedi mendirikan perkumpulan yang bertujuan menolong dan membantu pada saat perkelahian dinamakan Rekso Roemekso.
            Serekat Islam tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso pada awal 1912. Tirtoadhisoerjo merupakan redaktur sesama SI. Untuk anggota sesama SI, diberi tanda-tanda rahasia, seperi dengan secarik kertas hitam yakni memerlukan pertolongan, kertas berwarna kuning menandakan kesulitan, sedangkan kertas berwarna merah berarti ada sesama anggota berantem. SI masih tetap organisasi ronda seperti Rekso Roemekso, namun mendapat bentuk baru gerakan, boikot yang diperkenalkan oleh Tirtoadhisoerjo dan Marthodharsono. SI yang terdiri atas anggaran dasar yang disusun oleh Tirtoadhisoerjo dalam lingkungan keresidenan Surakarta.
            Tjokroaminoto merupakan anggota dari cabang SI dari Surabaya, ia menyerukan partai politik pertamanya dengan sebutan Hindia untuk Hindia. Lalu ia, mulai melobi polisi sehingga polisi tidak terlalu menyelidiki karena ia dekat dengan Gubernur Jenderal Belanda. Tjokroaminoto banyak ralasi dengan pedagang batik Surabaya. Ia merupakan tokoh yang paling berpengaruh pada SI. Karena SI Surakarta (pusatnya) berubah menjadi otoriter dan radikal.
            Pedagang batik di Lawean tidak dapat dan memang tidak mau membiayai SI, karena di masa perang bahan mentah untuk produksi batik melonjak tinggi. Haji Mohammad Misbach dan Haji Hisamzaijnie mulai menerbitkan Medan Moeslimin. Penerbitan itu merupakan usaha yang agak lambat dari kaum muda Islam untuk mengikuti zaman kemajuan dank arena itu tetap bersifat pinggiran dalam politik pergerakan pada akhir 1917. Mas Marco Kartodikromo, anak keluarga priyayi rendahan. Ia adalah anggota kaum muda, yang diciptakan oleh pendidikan gaya Barat karena aktivitas negara dan bisnis swasta Belanda. Lalu ia mendirikan IJB di Surakarta pada pertengahan 1914. Sejak awal, Marco bermaksud melancarkan “perang suara” melalui Doenia Bergerak. Marco merupakan tokoh yang radikal, ia tinggal di Belanda selama lima bulan dan kembali ke Jawa pada awal Febrauari 1917, bergabung dengan Pantjaran Warta pada 13 Februari ia langsung menerbitkan artikel “Sama Rata Sama Rasa”.
            Antara 1917-1920, pergerakan mengalami transformasi yang mendalam. Kini merepakan zaman pemogokan, dimana pemimpin baru dan pusat-pusat pergerakan bermunculan. Di dalam SI, seorang aktivis ISDV muda yaitu Samaoen muncul sebagai pemimpin SI Semarang dan VSTP. Sneevliet segera mengambil inisiatif untuk mendirikan ISDV pada Mei 1914-1916 tetap menjadi klub debat bagi kaum sosialis Belanda. Semaoen muncul sebagai bumiputra yang menjadi propagandis serikat buruh, ia memulai kariernya sebagai propagandis serikat buruh yang belajar Marxisme sekaligus cara mengorganisir serikat dan memimpin pemogokan dari pembimbingnya Sneevliet. Semaoen menempatkan pergerakan melawan ketentreman, yang menandai rust-nya orang Belanda dan tentremnya orang Jawa. Pada akhir 1917-1918 Semaoen berhasil memimpin serangkaian pemogokan di Semarang.
            Tjokro, dalam kongres CSI 1916 akan bekerja demi kemajuan rakyat Hindia dibawah dan bersama pemerintah Hindia Belanda. Ia mencoba menggerakan semangat demokrasi dan sosialisme dan mendorong gerakan Djawa Dipa. Gerakan itu dimulai oleh dua pemimpin SI Surabaya, Tirtodanoedjo dan Tjokrosoedarmo yang bertujuan menghapus bahasa Jawa tinggi dan menjadikan bahasa Jawa rendah (ngoko) sebagai bahasa Jawa yang standar. Tjokroaminoto secara resmi memasukan gerakan serikat buruh sebagai salahsatu bidang utama aktivitas CSI. Banyak serikat buruh yang berada dibawah pemimpin SI Semarang seperti VSTP, Typogafenbond, PPDH, SPPH, dan HAB. PHB-nya Soerjopranoto, menghadirkan Yogyakarta sebagai pusat pergerakan pada 1919. Pendiri PHB setelah kongres CSI tahun 1918 oleh Soerjopranoto. Ia berhasil mengubah perkumpulan aristocrat Pakualaman menjadi jaringan patronase aristocrat dan priyayi Pakualaman. Tujuan Adhi Dharma ini untuk memajukan kemajuan spiritual, moral, dan intelektual yang harmonis. Pada pertengahan 1919, terjadi dua insiden yang menyebabkan runtuhnya gerakan SI. Yang pertama adalah insiden Toli-Toli di Sulawesi Tengah pada Juni. Abdoel Moeis melakukan propaganda CSI, kunjungannya ternyata memercikkan rasa antusias terhadap pergerakan dan orang-orang mulai menolak kerja paksa serta banyak kaum muda yang mengalami perubahan.
            Kombinasi Tjipto yang nasionalis dan Misbach sang mubalig yang mendorong insulinde menjadi kekuatan pergerakan revolusioner utama di Surakarta. Tjipto ingin menunjukkan bahwa standar moralnya lebih tinggi dari kebanyakan priyayi Jawa yang suka menghamburkan-hamburkan uang. Ia ingin membangkitkan semangat melawan kolonial karena orang Jawa bersifat menerimo dan membentuk parlemen. Perspektif moralnya revolusioner karena ia melihat kemungkinan bangkitnya kembali moral orang Jawa menjadi orang Hindia. Adanya perbedaan pendapat antara Tjipto dan Marco yang bersuara dan bertindak seperti seorang satria dalam pergerakan berdasarkan pengertian yang popular tentang satria dalam dunia wayang. Tjipto adalah sosok revolusioner yang dihargai, yang standar moralnya dapat dipahami etisi Belanda.
            Misbach adalah  mubaligh berpendidikan pesantren, ia tampil sebagai tokoh pergerakan kaum muda Islam di Surakarta pada 1910-an. Ia baru aktif terlibat dalam pergerakan pada 1914 ketika ikut IJB-nya Marco. Pada 1924, persaingan antara kaum putihan dan kaum abangan semakin terpolitisir akibat pertikaian ideologis CSI Moehammadijah yang bersimbol Islam dengan PKI-SR yang mengaku atas dasar kepentingan rakyat. Misbach yang menggerakan Islam dalam propaganda tersebut sehingga ia menjadi orang terkemuka. Bangkitnya Insulinde kedua mulai aktivitas propagandanya di Kartasura. Bagi Misbach, dalam melakukan propaganda ia melancarkan kegiatannya didaerah pedesaan dan langsung berbicara kepada rakyat untuk menunjukan pergerakan petani karena merasakan penindasan dari birokrat. Lalu Dowes Deker ditangkap karena pemberontakan petani.   
            Tjipto mulai radikal melalui propaganda anti raja karena terlalu mewah. Rendahnya stndar hidup petani di Surakarta. Sehingga menimbulkan amarah yang pro dengan sunan. seperti Budi Utomo, Martodarsono, Djawihiswara mereka yang tidak suka dengan kelakuan Tjipto. Kelakuan Tjipto membuat masalah kepada Hindia, Mangkunegaraan, dan kesultanan.
            Terjadinya transformasi pada awal nya 7 orang boleh dua partai dalam pergerakan, selama ini ideology belum perang. Lalu Soewardi pulang dari Belanda dan membentu partai NIPSH, organisasi harus disiplin, mempunyai anggaran dasar, mars, keanggotaan, dan Soewardi dilirik oleh SI dan BO yang menginspirasi dan mengembangkan identitas partai dan mulai ada pertikaian paham  ideologi.
            Marco membangkitkan PKI dan SR di Surakarta. SI hampir bangkrut dan ditolong oleh Moehammadijah. Karena SI harus bersih dari komunis, anggota komunis radikal adalah Darsono yang merupakan komunis propaganda agar partainya tidak ada yang membuka skandal. Kongres istimewa CSI komunis benar-benar mundur serta peraturan D’ Fock yang konyol. Menghimpun kekuatan untuk melakukan pemogokan Tan Malaka diasingkan. Banyak yang lebih memilih pro dengan pemerintah. CSI pada zaman Partij berubah menjadi PSI transformasi pergerakan. Orang-orang komunis marah dengan Misbach (Islam bergerak), oaring Moehammadijah melakukan pinjaman duit dengan bunga. SI pergerakannya sangat lamban, sehingga mudah diserang Moehammadijah. SI Merah adalah oraganisasi yang dibentuk oleh Misbach merupakan cikal bakal dari komunis yang bergabung. Sedangkan Moehammadijah adalah Islam kapitalis dan pro kepada pemerintahan.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar