Selasa, 31 Desember 2013

Ulasan artikel mengenai Pajak Orang di AS Dinaikkan



Di Amerika Serikat, istilah "jurang fiskal" merujuk pada dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kenaikan pajak, pemotongan anggaran belanja, dan pengurangan anggaran lainnya terhadap defisit anggaran Amerika Serikat, yang secara potensial dimulai pada tahun 2013. Defisit – besarnya pengeluaran daripada penerimaan pemerintah – diduga akan berkurang pada pertengahan 2013. Kantor Anggaran Kongres memperkirakan bahwa penurunan tajam defisit negara (jurang fiskal) kemungkinan akan menimbulkan resesi ringan pada awal 2013 dan tingkat pengangguran akan meningkat menjadi 9% pada pertengahan tahun ini.
            Undang-undang yang mensponsori terjadinya jurang fiskal ini di antaranya dengan berakhirnya masa berlaku Undang-Undang Bantuan Pajak 2010, dan pemotongan belanja negara yang direncanakan dalam Undang-Undang Pengendalian Anggaran 2011. Berbagai usulan juga disarankan untuk menghindari terjadinya jurang fiskal ini, antara lain dengan cara mengimplementasikan kembali kebijakan pemotongan pajak Bush, merevisi Undang-Undang Pengendalian Anggaran, atau keduanya. Dengan demikian, maka defisit akan lebih besar karena kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi pajak atau meningkatkan pengeluaran negara. Karena dampak jangka pendeknya yang akan berdampak negatif terhadap perekonomian, maka jurang fiskal ini telah memicu berbagai komentar intens, baik di dalam maupun di luar Kongres Amerika Serikat.
            Undang-Undang Pengendalian Anggaran dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa mengenai krisis utang publik. Beberapa program-program utamanya seperti Jaminan Sosial, Medicaid, belanja rutin negara bagian (termasuk gaji militer dan pensiunan), dan perawatan veteran, dibebaskan dari pemotongan anggaran. Sedangkan pengeluaran negara untuk pertahanan, badan-badan federal, dan depertemen kabinet akan dikurangi secara kasar melalui pemotongan dangkal yang disebut dengan pemangkasan anggaran.[1]
            Sebelumnya, terjadi pertentangan anatara dua kubu partai Demokrat Obama dan kubu Republik. Dari pihak Obama, menyetujui adanya kenaikan pajak dan pemangkasan pengeluaran sedangkan dari kubu Republik menolak adanya kenaikan pajak.
            Fiscal cliff adalah sebutan untuk masa berakhirnya UU pembebasan pajak pengaturan pengeluaran belanja negara yang dibuat pemerintah George W. Bush dan berakhir masa periodenya pada 31 Desember 2012. UU yang dibuat saat itu berupa pemotongan pajak baik untuk gaji karyawan atau perusahaan. Dengan biaya pemotongan pajak, itu berarti aka nada tambahan pajak yang harus dicapai pemerintah senilai 600-700 miliar dollar AS yang artinya akan ada kenaikkan pajak di beberapa sektor.
            Kongres Amerika Serikat akhirnya membuat keputusan tak biasa untuk mengatasi kisruh “jurang fiscal” yang mengancam ekonomi AS. Pada Selasa, mereka menyepakati kenaikan pajak yang akan menghantam rumah tangga kaya di negara.[2] Dengan pajak yang sanggat tinggi, pemerintah DPR tak segan-segan mendukung  kesepakatan untuk mengindari fiscal cliff. Selain memangkas belanja negara untuk menurunkan defisit, AS juga bakal menaikkan pajak orang kaya demi menggenjot pendapatan.
            Baik kesepakatan antara pemerintah dan Kongres Amerika Serikat (AS) untuk menghindari jurang fiskal, karena dapat membawa dampak positif bagi perekonomian global. Kesepakatan jurang fiskal atau "fiscal cliff" yang dicapai dengan lambat dan penuh perdebatan dinilai telah sesuai dengan beberapa keinginan perusahaan besar AS, namun beberapa hal masih belum selesai, terutama mengenai soal pengurangan defisit dan utang.
            Dalam kesepakatan kenaikan pajak ini, Presiden Barack Obama mengumumkan bahwa kesepakatan ini hanya pelaksaan janji kampanyenya untuk kemajuan ekonomi yang lebih adil. Ternyata dengan diberlakukan kesepakatan untuk menghindari jurang fiscal ini, para investor asing di berbagai negara merespon positif.
            Kondisi itulah yang disebut sebagai Jurang Fiskal, dan mulai berlaku pada 1 Januari 2013 waktu setempat bila tidak ada kebijakan baru. Baik pemerintah AS maupun pakar ekonomi sepakat bahwa jurang fiskal ini bisa berbahaya bagi ekonomi AS. Resesi akan kembali muncul dan pengangguran kembali melonjak, disertai dengan tingginya inflasi dan dampak-dampak negatif lainnya. 
            Budget Control Act of 2011 mengatur kenaikan pajak pada 2013 dan memangkas anggaran negara federal Amerika Serikat. Kebijakan ini diyakini dapat menghemat anggaran AS hingga US$650 miliar dalam bentuk mengatasi krisis anggaran yang populer disebut "jurang fiskal". Kebijakan ini, memiliki dua sisi yang berlainan. Di satu sisi dapat menghemat anggaran AS, namun pada sisi lain dikhawatirkan dapat membuat perekonomian AS melesu, dan kembali memasuki masa krisis.[3]
            Dampak langsung dari jurang fiscal terhadap Indonesia, yaitu diberlakukannya pajak tinggi dan pemotongan anggaran AS ini, adalah permintaan ekspor dari Indonesia menuju AS dipastikan akan menurun, karena daya beli masyarakat negeri Sam ini juga ikut turun akibat pajak yang tinggi.
            Kenaikan pajak otomatis di AS akan memberikan efek domino terhadap ekonomi global. Konsumsi masyarakat akan berkurang karena daya beli menurun. Pendapatan kemudian berdampak pada melambatnya perdagangan. "Pada akhirnya akan bermuara pada menurunnya aliran dana ke pasar berkembang." Di pasar domestik, gejala itu terlihat dengan tindakan investor yang mulai mengalihkan ke aset yang dianggap lebih aman, misalnya dolar AS dan emas. "Pelaku pasar melakukan aksi ambil untung atas saham-saham yang harganya naik cukup tinggi, yakni di konstruksi, konsumer, dan infrastruktur.
            Namun harus diakui bahwa perlu waktu untuk dapat melihat hasil dari kebijakan AS tersebut. Pengaruhnya tidak serta merta bisa dirasakan dalam waktu dekat. Tapi kita harus tunggu dulu, apakah akan berjalan seperti itu. Kalau global ekonomi membaik, kita mengharapkan ada dampak positifnya di Indonesia khususnya melalui eksternal sektor ekspor.
            Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa UU Fiskal yang baru disetujui pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menghindari “jurang” fiskal tidak cukup efektif untuk mengatasi masalah ekonomi negara berkepanjangan, termasuk defisit dan utang keseluruhan. Presiden AS Barack Obama dan kongres Partai Republik telah berdebat selama lebih dari satu tahun terkait tarif pajak, besarnya pengeluaran pemerintah, defisit anggaran kronis, utang negara yang meningkat. Para pemimpin DPR menggambar kesepakatan Demokrat dan Republik tidak sempurna, tetapi itu pilihan terbaik menyangkut kepentingan rakyat AS.  UU Fiskal menyepakati bahwa individu dengan penghasilan lebih dari US$ 400.000 setahun, dan pasangan penghasilan lebih dari US$ 450.000 akan mengalami kenaikan pajak. DPR juga berkompromi menunda pemotongan anggaran pertahanan dan program-program dalam negeri. Analis mengatakan tanpa sebuah kompromi, langkah-langkah penghematan sebesar US$ 500 miliar dapat menjerumuskan ekonomi AS memasuki resesi baru. Obama menyebut kesepakatan fiskal itu sebagai “satu langkah” dalam upaya yang luas untuk memperkuat perekonomian AS.[4]
            Selain menghindarkan warga kelas menengah dari kenaikan pajak yang cukup besar, kesepakatan ini juga membuat AS bisa menunda pemotongan anggaran setidaknya selama dua bulan. Kondisi ini memungkinkan Kongres dan Gedung Putih membuka kembali negosiasi.
            Dalam kontek ini maka apa yang di khawatirkan Pentagon buat sementara tidak akan terjadi,dan ancaman pemotongan anggaran  pertahanan AS  secara besar-besaran tertunda.Jika  kesepakatan tersebut gagal, maka  menurut Menhan AS Leon Panetta angkatan bersenjata As sangat menderita,sehingga pasukan militernya bisa rapuh.[5] Nilai dari pemotongan belanja pertahanan adalah sebanyak 52, 3 milyar dolar AS untuk 2013 atau sekitar 10 % dari keseluruhannya.
            Partai Republik menyerukan pemotongan belanja lebih lanjut tentang jaminan sosial, hal mana masih sulit untuk mendapat persetujuan dari partai demokrat. Hasil pembahasan dari anggota majelis rendah ini sangat ditunggu pasar ekuitas dan sangat mungkin langsung berdampak pada pergerakan pasar di Asia dan Eropa pada perdagangan hari ini.

            Jurang fiskal memiliki berbagai efek pada orang-orang dengan tingkat pendapatan yang berbeda. Rumah tangga berpendapatan rendah adalah tingkat yang paling terpengaruh karena kadaluarsanya ekspansi kredit pajak anak dan hak untuk memperoleh kredit pajak penghasilan. Rumah tangga menengah paling terpengaruh oleh pajak gaji dan pajak penghasilan. Rumah tangga dengan tingkat pendapatan paling tinggi terpengaruh oleh kenaikan pajak dan pajak penghasilan terhadap pendapatan yang mereka terima di muka, seperti laba modal. Meskipun investor dan perusahaan-perusahaan Eropa tidak terpengaruh secara langsung, pajak perusahaan dari cabang dan anak perusahaan mereka di AS juga dapat berubah secara signifikan.[6]
            Sebelum tercapainya kesepakatan "fiscal cliff", para pembuat undang-undang di AS memiliki tiga pilihan, yang tidak ada satupun yang menarik untuk dipilih. Opsi pertama, mereka dapat saja mengulur waktu sampai dengan awal tahun 2013--yang menampilkan sejumlah kenaikan pajak dan pemotongan pengeluaran yang diharapkan untuk mempertimbangkan sisi pertumbuhan dan mungkin kembali mendorong ekonomi ke dalam resesi. Sisi positif dari pilihan ini adalah defisit keuangan AS akan turun signifikan di bawah peraturan yang baru.
            Kedua, mereka dapat saja membatalkan beberapa atau seluruh rencana penaikan pajak dan pemotongan pengeluaran, yang akan menimbulkan tambahan defisit keuangan AS dan akan menyebabkan krisis ekonomi seperti yang dihadapi di kawasan Eropa. Sisi positif dari pilihan ini, jelas hutang pemerintah AS akan tetap bertambah.  Ketiga, mereka dapat saja mengambil jalan tengah, memilih pendekatan yang akan membahas isu-isu anggaran terbatas, tapi yang akan memiliki dampak sederhana pada pertumbuhan. Opsi ketiga ini merupakan kesepakatan "fiscal cliff", jalan yang dipilih oleh pembuat peraturan dalam perjanjian yang dicapai pada 31 Desember 2012.
            Opsi ketiga menimbulkan kekhawatiran bagi para investor dan bisnis karena sifat yang sangat partisan dalam lingkungan politik yang sulit mencapai kompromi. Pembuat undang-undang telah berjibaku lebih dari setahun untuk mengatasi hal itu. Secara umum, partai Republik menginginkan untuk memotong pengeluaran dan menghindari penaikan pajak, sementara partai Demokrat melihat kombinasi antara pemotongan pengeluaran dan penaikan pajak.



[1] Weisman, Jonathan (1 January 2013). "Senate Passes Legislation to Allow Taxes on Affluent to Rise". The New York Times. Diakses 1 January 2013.
[2]  Republika.co.id “Kenaikan Pajak Orang Kaya”

[3] VIVAnews, Jurang Fiskal, Ancaman Baru Krisis Ekonomi AS.

[4] http://www.suarapembaruan.com/home/imf-uu-fiskal-tidak-cukup-efektif/28677
[5] http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/01/02/barack-obama-lega-senat-setujui-kesepakatan-jurang-fisikal--521525.html
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Jurang_fiskal_Amerika_Serikat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar