Selasa, 31 Desember 2013

PIDATO SOEKARNO TAHUN 1965





2.1       Kutipan Pidato Soekarno berjudul “Tahun berdikari”
1965: Capailah Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)
“Lima Azimat”: Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol/Usdek (1959), Trisakti Tavip (1964), dan Berdikari (1965)- sebenarnya hanyalah hasil penggalianku, yang dua pertama dari masyarakat bangsaku, dan tiga terakhir dari Revolusi Agustus. Kelima pokok instruksiku itu harus terus disebar-sebarkan, diresapkan, diamalkan, sebab dari terlaksana-tidaknya instrukti itu tergantung pula baik tidaknya Front Nasional di hari-hari yang akan datang, baik tidaknya persatuan bangsa di hari-hari yang akan datang”.

2.2       Pokok-Pokok Berdikari
Politik berdikari menjadi populer setelah Bung Karno memberi judul pidatonya 17 Agustus 1965: ‘Tahun Berdikari’. Sekalipun prinsip politik berdikari sering dikemukakannya pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam pidato 17 Agustus 1964 misalnya, Bung Karno mengemukakan prinsip Trisakti Tavip (Tahun Vivere Pericoloso).
Soekarno menjelaskan tiga prinsip berdikari. Yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiga-tiganya prinsip berdikari ini, kata Bung Karno, tidak dapat dipisahkan dan dipreteli satu sama lain. Menurutnya, tidak mungkin akan ada kedaulatan dalam politik dan berkepribadian dalam kebudayaan, bila tidak berdirikari dalam ekonomi. Demikian pula sebaiknya. Dengan berdaulat dalam bidang politik, Bung Karno menginginkan agar bangsa Indonesia benar-benar berdaulat dan tidak bisa didikte oleh siapapun. Di samping itu ia sering menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa mengemis, lebih-lebih kepada kaum imperalis.
Berdikari dalam ekonomi berarti kita harus bersandar pada dana dan tenaga yang memang sudah ada di tangan kita dan menggunakannya semaksimal-maksimalnya. Tidak boleh lagi terjadi ‘ayam mati dilumbung’, karena tanah air kita kaya raya. Menjelaskan berkepribadian dalam kebudayaan, Bung Karno menegaskan bahwa budaya kita kaya raya yang harus kita gali. Karenanya, ia menganggap tepat sekali diboikotnya film-film Inggris dan AS ketika itu. Juga tepat pemberantasan ‘musik’ The Beattle, literatur picisan, dansa-dansi gila-gilaan. Apa yang dikuatirkan Bung Karno itu kini menjadi kenyataan dengan makin merajalelanya dekadensi moral para muda-mudi.
Melalui Dekon (Deklarasi Ekonomi), sebagai perencanaan pembangunan ekonomi berdiri, Bung Karno meletakkan kedudukan rakyat sebagai sumber daya sosial bagi pembangunan. Ia yakin bahwa rakyat akan menjadi sumber daya ekonomi yang optimal bagi pembangunan bila aktivitas dan kreatifitasnya dikembangkan. Ia tanpa tedeng aling-aling mengecam keras cara-cara text-book thinking. Mengambil begitu saja pemikiran-pemikiran para ahli ekonomi Barat, tanpa memperhatikan kondisi di Indonesia. Dalam kaitan kerjasama ekonomi dengan negara-negara imperialis, ucapan Bung Karno yang sangat terkenal adalah : “Go to hell with your aid” seringkali ditafsirkan sebagai sikapnya yang usang terhadap bantuan asing, modal asing, bahkan segala yang berbau asing.

2.3       Analisa Pemikiran Soekarno dalam Pidato tahun 1965
            Tahun 1965 merupakan tahun yang sumber sejarah yang sangat penting bagi kepemimpinan yang ada di Indonesia. Pada tahun ini negara Indonesia sedang bergolak keamanaan dan kenyamaannya karena di tahun ini terjadi peristiwa G 30 S yang membuat atmosfer kehidupan politik dan sosial menegang salah satu-nya tuduhan PKI yang menjadi dalang di balik aksi tersebut dan Soekarno pun ikut terseret karena di anggap “bapak asuh” oleh sebagian rakyat karena sikap-nya yang dekat dan akrab terhadap PKI. Namun kita harus melihat sebenarnya kedekataan Soekarno dengan PKI bukan karena di landaskan oleh faktor ideologi Komunis. Soekarno menganggap bahwa konteks yang lebih tepatnya yakni marxisme atau sosialis. Oleh karena itu untuk mendukung gerakan politik Nasakom-nya Soekarno harus lah menempatkan partai Komunis dalam pemerintahan-nya. Di tahun 1965 ini dengan melihat beberapa pidato-pidato yang kami dapat dari berbagai sumber di internet, kami berpendapat bahwa di tahun ini-lah Soekarno menunjukan sikap kepemimpinan dan keras-nya terhadap tudingan-tudingan yang menuju pada diri-nya, selain itu juga persatuan dan konsolidasi antar rakyat Indonesia juga berusaha di bangun oleh soekarno dalam pidato tahun ini.
            Tidak banyak diketahui umum bahwa tahun 1965-1967 Presiden Soekarno sempat berpidato paling sedikit sebanyak 103 kali. Yang diingat orang hanyalah pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara, yang ditolak MPRS tahun 1967.  Kumpulan naskah ini diawali pidato 30 September 1965 malam (di depan Musyawarah Nasional Teknik di Istora Senayan, Jakarta) dan diakhiri pidato 15 Februari 1967 (pelantikan beberapa Duta Besar RI). Pidato-pidato Bung Karno (BK) selama dua tahun itu amat berharga sebagai sumber sejarah.  Ia mengungkapkan aneka hal yang ditutupi bahkan diputarbalikkan selama Orde Baru. Dari pidato itu juga tergambar betapa sengitnya peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Di pihak lain, terlihat pula kegetiran seorang presiden yang ucapannya tidak didengar bahkan dipelintir dan berujung pada kemarahan Soekarno dan Ia memaki dalam bahasa Belanda.
Konteks pidato
            Periode 1965 dapat dilihat sebagai awal masa peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto yang nanti berakhir pada 1967. Pada periode ini menurut kami merupakan periode panas politik di Indonesia. Diwarnai dengan kekacauan stabilitas nasional yakni dengan adanya pemberontakan G 30 S dengan PKI yang di duga sebagai dalang-nya. Dalam keadaan ini juga di bumbui isu-isu bahwa ada banyak pihak terlibat dalam gerakan tersebut seperti intelejen CIA, orang china, dan yang paling Anyar di hembuskan yakni Soekarno sebagai otak gerakan tersebut karena Soekarno pada saat itu memang di ketahui umum akrab dengan PKI oleh karena itu jika PKI terlibat dalam gerakan tersebut otomatis Soekarno pasti mengetahu gerakan bahkan di katakan mendukung gerakan tersebut.  Dalam versi pemerintah, masa ini dilukiskan sebagai era konsolidasi kekuatan pendukung Orde Baru (tentara, mahasiswa, dan rakyat) untuk membasmi PKI sampai ke akarnya serta pembersihan para pendukung Soekarno.
            Mulai tahun 1998 di Tanah Air dikenal beberapa versi sejarah yang berbeda. Selain menonjolkan keterlibatan pihak asing seperti CIA, juga muncul tudingan terhadap keterlibatan Soeharto dalam “kudeta merangkak”, yaitu rangkaian tindakan dari awal Oktober 1965 sampai keluarnya Supersemar (Surat perintah 11 Maret 1966) dan ditetapkannya Soeharto sebagai pejabat Presiden tahun 1967. “Kudeta merangkak” terdiri dari beberapa versi (Saskia Wieringa, Peter Dale Scott, dan Subandrio) dan beberapa tahap.
Pidato setelah G 30 S 1965
            Pada tahun ini khususnya setelah peristiwa G30S, Soekarno berusaha mengendalikan keadaan negara yang pada saat itu terjadi kekacauaan sosial. Hal ini bisa kita lihat  melalui pidato-pidatonya pada tahun ini yakni seperti di bawah ini:
“Saya komandokan kepada segenap aparat negara untuk selalu membina persatuan dan kesatuan seluruh kekuatan progresif revolusioner. Dua, Menyingkirkan jauh-jauh tindakan-tindakan destruktif seperti rasialisme, pembakaran-pembakaran, dan perusakan-perusakan. Tiga, menyingkirkan jauh-jauh fitnahan-fitnahan dan tindakan-tindakan atas dasar perasaan balas dendam.”
Di dalam kalimat di atas terlihat jelas bahwa Soekarno menyerukan kepada rakyat Indonesia agar selalu dalam keadaan yang tenang secara berfikir dalam hal ini yakni tidak melakukan tindakan rasis dan desktruktif, selain itu juga rakyat Indonesia di himbau oleh Soekarno untuk selalu membentengi diri dalam konteks tidak mudah termakan oleh fitnah-fitnah maupun semangat balas dendam.
Ia juga menyerukan :
“Awas adu domba antar-Angkatan, jangan mau dibakar. Jangan gontok-gontokan. Jangan hilang akal. Jangan bakar-bakar, jangan ditunggangi”.
Dalam pidato ia menyinggung Trade Commission Republik Rakyat Tiongkok di Jati Petamburan yang diserbu massa karena ada isu Juanda meninggal diracun dokter RRT. Padahal, beliau wafat akibat serangan jantung. Selain itu juga Soekarno menentang rasialisme yang menjadikan warga Tionghoa sebagai kambing hitam pada saat itu.

AMANAT P.J.M. PRESIDEN/ PANGLIMA TERTINGGI ABRI PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO
JANG DIUTJAPKAN MELALUI RRI PADA TGL.3 OKTOBER 1965 DJAM 01.30.
Saudara-Saudara sekalian.
Mengulangi perintah saja sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi jang telah diumumkan pada tanggal 1 Oktober ’65, dan untuk menghilangkan semua keragu-raguan dalam kalangan rakjat, maka dengan ini saja sekali lagi menyatakan bahwa saja berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan tetap memegang tampuk pimpinan Negara dan tampuk pimpinan Pemerintahan dan Revolusi Indonesia.
Pada hari ini tanggal 2 Oktober ’65 saja telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersendjata bersama wakil Perdana Menteri kedua Dr. Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud untuk segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut peristiwa 30 September. Untuk dapat menyelesaikan persoalan ini saja telah perintahkan supaja segera ditjiptakan satu suasana yang tenang dan tertib, dan untuk itu perlu dihindarkan segala kemungkinan bentrokan dengan sendjata.
Dalam tingkatan perdjoangan Bangsa lndonesia sekarang ini, saja perintahkan kepada seluruh rakyat untuk tetap mempertinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan Dwikora. Kepada seluruh Rakjat lndonesia saja serukan untuk tinggal tetap tenang dan kepada semua menteri dan petugas- petugas negara lainnja untuk tetap mendjalankan tugasnya masing-masing seperti sediakala.
Pimpinan Angkatan Darat pada dewasa ini berada langsung dalam tangan saja dan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat sementara saja tundjuk Maj. Djen. Pranoto Reksosamodra, Ass keIII Men/ PANGAD. Untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban jang bersangkutan dengan peristiwa 30 September tersebut telah saja tundjuk Maj.Djen. Suharto, Panglima Kostrad sesuai dengan kebidjaksanaan jang telah saja gariskan.
Saudara-saudara sekalian.
Marilah kita tetap membina semangat persatuan dan kesatuan Bangsa; marilah kita tetap menggelorakan semangat anti nekolim.
Tuhan bersama dengan kita semua
Dalam kutipan di atas, Soekarno ingin menetralkan kekacauaan politik yang ada pada saat itu. Soekarno menegaskan bahwa dia dalam keadaan sehat dan masih dalam status sebagai Presiden RI. Hal ini di lakukan oleh Soekarno mungkin untuk menepis isu-isu yang ada dan mengatakan bahwa pemerintahan sudah lagi kacau dan Soekarno mungkin sudah tidak bisa memimpin lagi.
Pidato 20 November 1965 di depan keempat panglima Angkatan di Istana Bogor BK
Dalam pidato 20 November 1965 di depan keempat panglima Angkatan di Istana Bogor BK, Soekarno mengatakan :
“Ada perwira yang bergudul. Bergudul itu apa? Hei, Bung apa itu bergudul? Ya, kepala batu.” Pada kesempatan yang sama Soekarno menegaskan, “Saya yang ditunjuk MPRS menjadi Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Subandrio. Bukan Leimena…. Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto, dan seterusnya.
Dalam kutipan pidato di atas tersirat jelas kemarahaan Soekarno kepada Soeharto walaupun tidak secara terang-terangan hal ini terlihat pada kalimat pertama yakni “ada perwira gundul, dan kepala batu.” Mungkin ini di tujukan kepada Soeharto pada saat itu selain itu juga pendapat ini di perkuat dengan penyebutan nama Soeharto. Berbeda dengan nama tokoh lain, Soeharto disebut dua kali dan secara berturut-turut).
            Mengapa Soekarno tak mau membubarkan PKI? padahal ini alasan utama kelompok Soeharto menjatuhkannya dari presiden. Hal ini Karena dia konsisten dengan pandangan sejak tahun 1925 tentang Nas (Nasionalisme), A (Agama), dan Kom (Komunisme). Dalam pidato ia menegaskan, yang dimaksudkan dengan Kom bukanlah Komunisme dalam pengertian sempit, melainkan Marxisme atau lebih tepat “Sosialisme”. Meskipun demikian Soekarno bersaksi “saya bukan komunis”. Bung Karno juga mengungkapkan keterlibatan pihak asing yang memberi orang Indonesia uang Rp 150 juta guna mengembangkan “the free world ideology”. Ia berseru di depan diplomat asing di Jakarta, “Ambassador jangan subversi.”
Pidato 12 Desember 1965 dalam rangka ulang tahun Kantor Berita Antara
Tanggal 12 Desember 1965 ketika berpidato dalam rangka ulang tahun Kantor Berita Antara di Bogor, Presiden mengatakan :
tidak ada kemaluan yang dipotong dalam peristiwa di Lubang Buaya. Demikian pula tidak ada mata yang dicungkil seperti ditulis pers.
Hal tersebut di lakukan Soekarno dalam pidato karena ingin menghilangkan isu-isu yang berkembang di masyarakat bahwa G 30 S di lakukan secara sangat sadis. Karena Soekarno mengkhawatirkan nanti rakyat akan merasa tidak aman dan saling curiga mencurigai sehingga tidak terjalin persatuan di antara rakyat Indonesia selain itu juga untuk “mendingingkan” keadaan sosial yang mencekam pada saat itu.
Pidato di depan HMI di Bogor 18 Desember 1965
Peristiwa pembantaian di Jawa Timur diungkapkan Soekarno dalam pidato di depan HMI di Bogor 18 Desember 1965. Soekarno mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan sadis, orang bahkan tidak berani menguburkan korban.
“Awas kalau kau berani ngrumat jenazah, engkau akan dibunuh. Jenazah itu diklelerkan saja di bawah pohon, di pinggir sungai, dilempar bagai bangkai anjing yang sudah mati.”
Dalam kesempatan sama, Bung Karno sempat bercanda di depan mahasiswa itu, “saya sudah 65 tahun meski menurut Ibu Hartini seperti baru 28 tahun. Saya juga melihat Ibu Hartini seperti 21 tahun.”
            Gaya bahasa Soekarno memang khas. Ia tidak segan memakai kata kasar tetapi spontan. Beda dengan Soeharto yang memakai bahasa halus tetapi tindakannya keras. Di tengah sidang kabinet, di depan para Menteri, Presiden Soekarno tak segan mengatakan “mau kencing dulu” jika ia ingin ke belakang . Ketika perintahnya tidak diindahkan, ia berteriak “saya merasa dikentuti”. Pernah pula ia mengutip cerita Sayuti Melik tentang kemaluannya yang ketembak. Namun, di lain pihak ia mahir menggunakan kata-kata bernilai sastra, “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”
            Dalam pidato 30 September 1965 ia sempat mengkritik pers yang kurang tepat dalam menulis nama anak-anaknya. Nama Megawati sebetulnya Megawati Soekarnaputri, bukan Megawati Soekarnoputri. Demikian pula dengan Guntur Soekarnaputra.
Makna Garis Besar pidato Soekarno pada tahun 1965
            Apa yang disampaikan Soekarno dalam pidato-pidatonya pada tahun 1965 merupakan bantahan atas apa yang ditulis media. Monopoli informasi sekaligus monopoli kebenaran adalah causa prima dari Orde Baru. Hal ini di perparah dengan tindakan Umar Wirahadikusumah yang mengumumkan jam malam mulai 1 Oktober 1965, pukul 18.00 sampai 06.00 pagi, dan menutup semua koran kecuali Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Koran-koran lain tidak boleh beredar selama seminggu. Hal ini tentu penuh dengan pertanyaan mengapa hanya kedua Koran itu yang di perbolehkan untuk beredar? Dan seperti yang sudah di duga oleh banyak kalangan bahwa waktu sepekan ini dimanfaatkan pers militer untuk mengampanyekan bahwa PKI ada di belakang G30S dan otomatis juga sebagai usaha besar untuk menjatuhkan citra Soekarno sebagai Presiden dalam rangka upaya penggulingannya.
            Meski masih berpidato dalam berbagai kesempatan, tetapi pernyataan Soekarno tidak disiarkan oleh koran-koran. Sebagai contoh Bila Ben Anderson di jurnal Indonesia terbitan Cornell mengungkapkan hasil visum et repertum dokter bahwa kemaluan jenderal tidak disilet dalam pembunuhan di Lubang Buaya 1 Oktober 1965, jauh sebelumnya Soekarno dengan lantang mengatakan, 100 silet yang dibagikan untuk menyilet kemaluan jenderal itu tidak masuk akal!.
            Dalam pidatonya juga terdengar keluhan sekaligus kemarahan Soekarno terhadap pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan keadaan untuk menggulingkan diri-nya seperti pidato yang ada di atas yang mungkin secara jelas terlihat ditujukan kepada Soeharto. Selain itu juga Soekarno jengah terhadap pihak-pihak yang coba menjatuhkan citra-nya melalui propaganda-propaganda yang ada di masyarakat padahal bila kita ketahui, Presiden Soekarno masih sempat melantik taruna AURI dan berpidato dalam peringatan 20 tahun KKO. Terlihat juga Paling sedikit Angkatan Udara, Marinir, dan sebagian besar tentara Kodam Brawijaya masih setia kepada Bung Karno. Tetapi kenapa ia hanya sekadar berseru “jangan gontok-gontokan antarangkatan bersenjata”. Kenapa ia tidak memerintahkan tentara yang loyal kepadanya untuk melawan pihak yang ingin menjatuhkannya?
            Dan ini-lah wibawa bapak presiden pertama kita. Soekarno tidak ingin terjadi pertumpahan darah sesama bangsa Indonesia pada tahun ini. Soekarno tidak ingin adanya perpecahaaan yang ada di Indonesia karena kita memperoleh kemerdekaan dengan jalan persatuan. Soekarno juga pada tahun ini ingin mengajak rakyat Indonesia melalui pidato-pidatonya supaya rakyat Indonesia tidak termakan oleh fitnah, tidak saling musuh-memusuhi, tidak saling mencari kambing hitam, dan tidak saling menghancurkan satu sama lain. Dan secara garis besar kami bisa menyimpulkan sikap Soekarno pada tahun 1965 ini melalui pidato-nya yakni mengajak kembali persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia yang di waktu itu sedang terjadi kekacauaan politik dan sosial di mana-mana akibat gerakan 30 September 1965.

1 komentar: