Minggu, 20 Mei 2012

DAVID LIVINGSTONE: PENGINJIL DAN PENJELAJAH BENUA HITAM


David Livingstone adalah seorang misionaris yang dilahirkan pada 19 Maret 1813 di kota Blantyre, Lanarkshire, Skotlandia. David kecil adalah anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Neil Livingstone (1788-1856) — seorang guru sekolah minggu — dan istrinya Agnes Hunter (1782-1865). Sebagai seorang Kristen yang taat, sang ayah telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap David Livingstone ketika dia masih muda.
Terlahir pada masa revolusi industri di Inggris, memaksa David Livingstone bekerja di sebuah pemintalan kapas selama empat belas jam sehari dengan gaji hanya lima shilling per minggu. Jam kerja yang menyita sebagian besar waktunya membuatnya terpaksa bersekolah pada malam hari di Blantyre Village School. Keluarga Livingstone bukanlah sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan, David Livingstone harus menabung sedikit demi sedikit sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Anderson`s College di Glasgow pada tahun 1836 dan memerdalam pengetahuannya dalam bidang kedokteran dan penginjilan.
Cita-citanya kala itu adalah menjadi seorang tenaga medis di Cina. Hal ini dipengaruhi oleh seruan seorang misionaris berkebangsaan Jerman bernama Karl Gutzlaff mengenai kurangnya utusan penginjilan dalam bidang medis di Cina. Pada musim gugur 1838, David Livingstone diterima di London Missionary Society (LMS). David sangat berharap LMS akan mengirimnya ke daratan Cina sebagai tenaga medis. Sayangnya, perang candu pertama yang pecah di bulan September 1839, tidak memungkinkan David Livingstone melakukan pelayanan ke Cina. Akhirnya, Livingstone untuk sementara menetap di Inggris sambil melanjutkan studinya.
DAVID LIVINGSTONE DAN PENGINJILAN
Pelayanan David yang pertama berawal dari perkenalannya dengan Robert Moffat pada tahun 1840. Pertemuan mereka telah menggugah hati David Livingstone untuk menjadi relawan dan pergi melayani di bagian selatan benua Afrika. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, David Livingstone menerima tawaran dari LMS dan bertolak dari Inggris pada Desember 1840 dan tiba di Pangkalan Kuruman pada tahun 1841. Dia mendarat di Benua Hitam dengan membawa “sextant” (semacam kompas), beberapa lembar buku, alat peneropong, dan obat-obatan. Kerinduannya yang terbesar adalah melayani di daerah-daerah yang belum terjamah oleh orang kulit putih.
Setelah beristirahat beberapa hari di Kuruman, David Livingstoe melanjutkan perjalanan ke Lepelole. Suku yang mendiami daerah Lepelole adalah suku Bakwena. Sebagai salah satu media penginjilan, David Livingstone mempelajari bahasa daerah setempat. Namun, keadaan keamanan kurang mendukung di daerah ini, David menyadari bahwa setiap kali dia selesai berkhotbah, banyak orang-orangnya yang dibunuh, ditangkap, atau diusir oleh suku lain. Sebagai jalan keluar, akhirnya pada tahun 1844, David memutuskan untuk pergi ke arah utara, menuju Mabotsa.
Pada tahun 1844, daerah Mabotsa didiami oleh orang-orang Bakhatla. Selama berada di Mabotsa, David sering memberitakan tentang Yesus sambil berkumpul dengan orang Bakhala di antara api unggun. Lagu gereja pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa lokal adalah “There Is a Fountain Filled With Blood”. Di tempat inilah terjadi peristiwa yang mengubah hidup David. Dia diserang oleh seekor singa yang meremukkan bahu kirinya. Akibatnya sungguh fatal karena sepanjang sisa hidupnya, David Livingstone hampir tidak bisa menggunakan tangan kirinya lagi. Di Mabotsa, David menikah dengan putri Robert Moffat yang bernama Marry.
Ketika kelompok misi yang baru tiba di Mabotsa, David pindah ke daerah Chonuane yang didiami oleh orang-orang Kwena. Pada suatu hari, kepala suku yang bernama Sechele memanggil semua anggotanya untuk berkumpul dan mendengarkan khotbah David Livingstone. Hatinya tergerak dan bertobat, sejak saat itu dia menjadi seorang Kristen yang taat. Karena dorongannya, banyak anggota suku yang pergi ke sekolah-sekolah misi.
Musim kering yang berkepanjangan dan menipisnya persediaan air di Chonuane memaksanya untuk pergi ke daerah Kolobeng pada tahun 1847. Saat David pergi ke Kolobeng, dia menyadari bahwa banyak orang mengikutinya. Kebanyakan orang-orang tersebut merasa tidak bisa hidup jauh dari David yang mengobati mereka, mengajarkan membaca, dan terutama menceritakan Yesus yang ajaib. Di Kolobeng, mereka mendirikan sebuah sekolah kecil.
Masa kekeringan tidak berakhir sampai di sini saja. Beberapa tahun ke depan, hujan sangat jarang turun di Kolobeng. Tanah menjadi kering, bahkan air sungai tidak mengalir. Agar bisa selamat dari bencana kekeringan ini, mereka harus pergi ke daerah Makololo dan melewati gurun Kalahari. Dengan dibantu oleh kedua rekannya yang bernama William C. Oswell dan Mungo Murray, David Livingstone melakukan perjalanan melewati gurun Kalahari dan menemukan Danau Ngami.
Keinginan David Livingstone untuk melakukan penginjilan lebih lagi ke daerah utara semakin menggebu. Tapi, David menyadari bahwa istri dan anak-anaknya tidak dapat mengikutinya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memulangkan keluarganya ke Inggris, sedangkan dia sendiri tetap melanjutkan misinya.
Dalam penginjilannya, David Livingstone selalu menekankan betapa pentingnya mengerti budaya lokal dan kepercayaan masyarakat untuk membuat mereka tertarik terhadap kekristenan. David Livingstone menyadari bahwa kekristenan adalah sebuah ancaman besar bagi masyarakat Afrika. Terutama jika berhubungan dengan upacara tradisional yang menyatukan masyarakat melalui budaya poligami yang dipraktikkan di Afrika. Padahal itu dilarang oleh kekristenan. David Livingstone juga mengalami kesulitan dalam hal bahasa, karena bahasa lokal tidak mengenal kata kasih dalam konsep Allah maupun kata dosa.
PERJALANAN TERUS BERLANJUT
Apa yang dicapai oleh David Livingstone selama perjalanannya, yaitu menemukan daerah-daerah baru. Karena menemukan daerah-daerah baru, ditemukan pula pengetahuan alam yang baru, seperti binatang-binatang baru, tumbuh-tumbuhan yang lain, keadaan alam yang berbeda, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Peta Afrika pertama yang dibawanya dulu, tidak berisi apa pun mulai dari Kuruman hingga Timbuktu, tapi berkat jasanya, peta itu kini telah terisi daerah-daerah secara terperinci dan lengkap. Di tanah airnya, dia disambut sebagai pahlawan nasional dan dielu-elukan oleh masyarakat Inggris. Namun, kepulangannya pada Desember 1856 mengakibatkan perbedaan pendapat antara dia dan LMS yang telah mengutusnya, dan perbedaan itu terus meruncing. David ingin kembali lagi ke Afrika untuk membuka jalur perdagangan dan kekristenan di sana, tapi dia menyadari bahwa LMS tidak akan membantunya dalam hal penjelajahan dan ekonomi. Memanasnya hubungan David dengan LMS itu membuatnya memutuskan untuk melepaskan diri dari yayasan tersebut.
David Livingstone mewujudkan keinginannya untuk kembali lagi ke Afrika dengan bantuan biaya dari pemerintah Inggris dan mengepalai tim ekspedisinya sendiri. Selama lima tahun, David Livingstone melakukan penjelajahan ke daerah Afrika Timur dan Tengah untuk kepentingan pemerintah Inggris.
Dalam ekspedisinya yang kedua ini, David Livingstone harus menelan pil pahit dan menerima kenyataan bahwa ekspedisi ini tidak berjalan seperti yang diinginkannya. David Livingstone membuat keputusan yang salah tentang sungai Zambesi dan riam-riam di Cabora Bassa. Kapal-kapal uap pada masa itu ternyata tidak sanggup mengarungi riam-riam tersebut dan memaksanya berpaling ke sungai Shire yang mengalir di sebelah utara sungai Zambesi menuju Danau Malawi. Tapi sebelum sempat terlaksana, pemerintah Inggris memaksa mereka untuk pulang pada tahun 1863. Ekspedisinya yang kedua dianggap sebagai sebuah kegagalan dan pemerintah Inggris sudah tidak tertarik untuk kembali membiayai ekspedisinya.
Setelah melakukan usaha penggalangan dana yang sulit, David Livingstone kembali lagi ke Afrika pada tahun 1866. Tujuan David Livingstone kali ini untuk mencari muara sungai Nil. Petualangannya membawa David Livingstone ke sungai Lualaba. Ia mengira telah menemukan tujuannya, padahal sebenarnya sungai Lualaba adalah hulu sungai Kongo.
Walau melakukan kekeliruan tentang sungai Nil, namun penemuan geografisnya merupakan harta karun yang tak ternilai bagi ilmu pengetahuan di barat kala itu. Dia menemukan Danau Ngami, Danau Malawi, dan Danau Bangweulu. Tidak hanya itu, David Livingstone juga berjasa memetakan Danau Tangyika, Danau Mweru, dan beberapa jalur sungai, terutama hulu sungai Zambesi.
DAVID LIVINGSTONE DAN PERBUDAKAN
Walau David Livingstone dikenal sebagai seorang penginjil, tapi dia juga memiliki andil yang sangat besar dalam usahanya untuk menghapus perbudakan di Afrika.
Pada saat kuliah, David Livingstone kerap mengikuti perkuliahan yang diadakan oleh Ralph Wardlaw, seorang pemimpin yang pada masa itu secara gigih mengampanyekan anti perbudakan di London. Ketika dia memutuskan untuk pergi ke Afrika Selatan, dia tidak hanya mendapat pengaruh dari Robert Moffat. Dia juga dipengaruhi sebuah tulisan yang ditulis oleh seorang penganut Abolosianisme (azas yang membela penghapusan perbudakan) yang bernama T.F. Buxon. T.F. Buxon menyebutkan bahwa perbudakan di Afrika dapat dihapuskan dengan membuka sebuah jalur perdagangan yang sah dan penyebaran ajaran Kristen di tanah Afrika.
Ketika melakukan perjalanan ke utara untuk membuka ladang pelayanan baru, Livingstone menjatuhkan pilihan di kedua sisi sungai Zambesi. Alasan yang mendasari pilihan David Livingstone adalah karena daerah ini memiliki penduduk yang lebih padat dan berada di luar jangkauan pedagang budak. David Livingstone juga melihat Sungai Zambesi sebagai sebuah alternatif dibukanya jalur perdagangan yang sah untuk menghalau pedagang budak dari daerah itu.
Surat, buku, dan jurnal-jurnal milik David Livingstone merangsang publik untuk menentang dan menghapus perbudakan. Salah satu bukunya yang terkenal diterbitkan pada tahun 1857 dan sampai saat ini masih dicetak ulang berjudul “Missionary Travels and Researches in South Africa”. Buku ini menceritakan pengalamannya dalam mengajarkan bahwa Allah itu kasih kepada bangsa kanibal di Afrika.
Tahun-tahun terakhir David Livingstone dilalui dengan penjelajahan ke daerah-daerah yang belum pernah dilaluinya antara Danau Malawi dan Tanganyika. David Livingstone kehilangan hubungan dengan dunia luar selama kurang lebih enam tahun. Hanya satu dari empat puluh empat suratnya yang sampai ke Zanzibar. Berbagai tim ekspedisi dikirim oleh pemerintah Inggris untuk menemukan David Livingstone. Henry Morton Stanley dan timnya yang dikirim oleh surat kabar The New York Herald, menemukan David Livingstone di sebuah kota yang bernama Ujiji pada 10 November 1871.
David Livingstone meninggal dunia di Chitambo pada 1 Mei 1873 karena menderita penyakit malaria dan pendarahan internal yang disebabkan oleh disentri. David Livingstone menghembuskan napas terakhirnya sambil berlutut di samping tempat tidur dalam posisi berdoa. Dua pembantu setianya yang bernama Susi dan Chuma mengubur jantung dan organ-organ tubuh bagian dalam David Livingstone di bawah pohon mvula. Jasadnya dibalsam dan dikeringkan di bawah sinar matahari untuk akhirnya dipulangkan ke Inggris. Perjalanan yang dibutuhkan untuk membawa jenazah David Livingstone kembali ke Inggris memakan waktu sembilan bulan. Setelah tiba di Inggris, jenasahnya disemayamkan di Westminster Abbey pada 18 April 1874.
“Saya akan memberitahu kalian apa yang menopang saya di tengah semua kerja keras dan penderitaan dan kesepian yang tak dapat saya gambarkan beratnya. Yang menopang saya adalah sebuah janji, janji seorang beradab yang paling terpuji dan sakral, ialah janji, `Ketahuilah, Aku akan menyertaimu senantiasa, sampai kepada akhir zaman.`” (Matius 28:20). (David Livingstone)

2 komentar:

  1. David Livingstone dan John Wesley dianggap sebagai Rasul Inggris

    BalasHapus
  2. tolong sahre dong, sumber buku (tulisan ) ini dr mana..???

    BalasHapus