Sabtu, 01 Juni 2013

Kurikulum 2013 Tuntut Kesiapan Guru dan Siswa



Rabu, 20 February 2013 | 19:09 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua Komisi X DPR Utut Adianto mengatakan efektivitas penerapan Kurikulum 2013 lebih kepada kesiapan guru dan sekolah. Ini terkait anggaran untuk Kurikulum 2013 yang membengkak dari Rp584 miliar menjadi Rp1,457 triliun.
"Perihal efektif tidaknya, lebih kepada kesiapan guru, buku pegangan guru maupun siswa," kata Utut Adianto saat dihubungi metrotvnews.com, Rabu (20/2).
Anggaran yang tercantum dalam dokumen Pengembangan Kurikulum 2013 yang diajukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada Komisi X bidang pendidikan itu belum final.
Dalam dokumen tersebut tercantum anggaran terbesar untuk pengadaan buku yang mencapai Rp1,035 triliun. Selebihnya untuk pelatihan guru. "Ini yang sedang kita minta secara tertulis di Komisi X (Panitia Kerja Kurikulum) ," kata Utut.
Rencananya, Komisi X akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) lagi dengan Wakil Mendikbud. Selanjutnya, Rapat Internal Panja Kurikulum DPR disusul Rapat Komisi dan Rapat Kerja dengan Mendikbud untuk rekomendasi. (Timi TD/Agt)








Hasil Analisa saya
            Pada kurikulum 2013 justru kurang fokus karena menggabungkan mata pelajaran IPA dengan Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Ini terlalu ideal karena tidak mempertimbangkan kemampuan guru serta tidak dilakukan uji coba dulu di sejumlah sekolah sebelum diterapkan. Kebijakan pemerintah untuk mengimplementasikan kurikulum berbasis observasi integratif itu dinilai mengabaikan kesiapan guru. Belum banyak guru yang tahu bagaimana konsep Kurikulum 2013. Pemerintah tidak mempertimbangkan kondisi heterogen guru terutama guru di pedalaman, mereka tidak mudah untuk beradaptasi dengan hal – hal yang baru apalagi dalam waktu yang singkat.
            Dalam soal anggaran untuk pembuatan kurikulum saja memakan triliun rupiah, perihal efektif tidaknya terhadap kesiapan guru pada buku ajar guru maupun siswa. Sebaiknya pemerintah melakukan riset terlebih dahulu mengenai kesiapan guru-guru dan sekolah yang belum menerapkan kebijakan kurikulum baru agar apa yang telah direncanakan sebelumnya tidak menjadi hal yang sia-sia. Mengubah kurikulum tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh waktu yang tidak singkat. jika dipaksakan, nantinya siswa yang akan jadi korban.
            Kesiapan guru, yang untuk sosialisasi dan pelatihan yang maksimal mustahil bisa dilakukan dalam waktu enam bulan meski pemerintah menggunakan sistem pelatihan berantai. Pemerintah  menyepelekan persoalan, sebuah kurikulum itu butuh waktu untuk disosialisasikan. Guru-guru harusnya dilatih benar-benar mengenai pemahaman isi kurikulum seperti apa, tujuannya apa, dan waktu enam bulan itu bisa dapat apa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar